Menjadi Sahabat Anak

familyAnak adalah amanah besar dari Allah kepada setiap pasangan suami istri. Anak memang punya kehidupan sendiri, punya tanggung jawab sendiri dan ia adalah pribadi yg berbeda dengan orang tuanya. Namun, menjadi seperti apa anak kita, sedikit banyak ada peran kita di dalamnya.

Kehidupan modern saat ini telah membawa tren baru dlm perkembangan seorang anak. Media2 terus menerus memuji2 orang tua yg memiliki anak2 yg mandiri. Anak2 yg bisa mengurus dirinya sendiri meski kedua orang tuanya bekerja. Sehingga tanpa sadar, orang tua jaman sekarang telah kehilangan buah hatinya di usia putra putrinya yg masih belia.

Saya melihat pasangan2 yg keduanya bekerja biasanya anak2-nya lebih cepat mandiri. Tapi benarkah mereka benar2 siap dengan kemandirian itu? Ternyata belum.

Banyak anak mengartikan kemandirian itu dengan kebebasan. Ya, karena mereka diasuh oleh televisi dan sinetron yg jauh dari nilai2 kebaikan. Anak2 diajarkan bagaimana berhubungan dg lawan jenis. Bagaimana cara dan upaya merebut hati seorang gadis. Sementara untuk gadis2-nya diajarkan bagaimana menunjukkan auratnya, ditunjukkan bahwa mereka yg menutup aurat adalah gadis2 lugu, mudah ditipu dan terkesan bodoh.

Alhasil, karena bimbingan orang tua jarang mereka dapatkan, kalaupun dapat porsinya hanya sekedar saja dan menggunakan energi sisa bekerja seharian, maka lengkaplah sudah upaya memisahkan orang tua dengan anak.

Solusinya adalah membina kembali hubungan antara ortu dan anak. Salah satunya adalah dg menjadi sahabat mereka. Bagaimana sih sahabat itu?

Sahabat itu suka memberi perhatian

Maka ortu hrs perhatian. Tapi bedakan antara memberi perhatian dengan mengabsen atau menginterogasi. Seringkali bentuk perhatian ortu mirip komandan militer mengecek anak buahnya atau mengajukan pertanyaan2 seperti seorang reporter TV yg menyebalkan.

Perhatian itu haruslah dg ketulusan. Misalnya, lagi ngapain sekarang? Apa sudah makan yang? Lalu tambahkan kalau ibu lagi istirahat kerja ini, tadi input data banyak banget. Gak ada salahnya kok cerita aktifitas kita di kantor atau guyonan teman2 kantor.

Biasanya di awal2 perhatian kita, anak akan masih curiga. Dia akan jawab sekenanya. Tapi itu hanyalah ujian darinya krn teman2-nya juga pasti diperlakukan seperti itu. Jadi, jangan menyerah dan beri dia banyak perhatian meski sebatas sms2 atau telp dan cerita sesuatu yg gak penting blas.

Ketika akhir pekan, upayakan menjadi hari spesial buatnya. Gak perlu mewah, jalan2 di taman kota atau sekedar main monopoli dg ayah sudah sangat melegakan hati seorang anak.

Kebahagiaan itu bukan melulu uang. Karena begitu banyak anak lari dari ortunya hanya karena cinta pada orang lain yg nggak pernah memberi materi apapun. Orang itu hanya memberi perhatian lebih melebihi perhatian kita. Gak bisa dibandingkan dengan materi yang diberikan oleh kedua orang tua. Tapi kenapa mereka bisa memilih orang lain daripada orang tuanya? Sebabnya karena orang itu dapat memberikan kebahagiaan yang tak dia dapatkan dari orang tuanya.

Nah, coba mulai sekarang jangan terlalu pelit pulsa untuk meng-SMS atau menelpon buah hati kita di rumah. Atau kalau mau lebih optimal, sebaiknya ibu yang dalam Islam disebut madrasah awal seorang anak berhenti kerja. Jangan khawatir soal rejeki, saya yakin sekali rejeki itu sudah ada jatahnya. Ketika dulu istri saya keluar kerja, keuangan keluarga justru meningkat. Seorang suami juga bisa lebih optimal bekerja karena ketika pulang, sudah ada istri yang dlm keadaan segar menyambutnya. Ada anak-anak yang ceria karena tak kurang kasih sayang orang tuanya. Dan insyaaLlah gak terlalu banyak masalah rumah tangga karena komunikasi suami istri bisa efektif karena hanya salah satu yang lelah.

Silahkan Berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s