Bagaimana Mengembalikan Jati Diri Bangsa?

Sebenarnya ada banyak cara mengembalikan jati diri bangsa kita. Tapi kita perlu tahu dulu bagaimana sih bangsa kita ini sebenarnya. Dan pengembalian ini juga tidak boleh serta merta menjadi kemunduran. Karena itu untuk memudahkan penjelasan, ada baiknya kita melihat contoh negara timur lain yang masih menjunjung tinggi budaya bangsa dan bahkan menjadikannya budaya dunia.

Ambil contoh Jepang, meskipun terbilang negara yang sangat pesat perkembangannya, tapi Jepang masih setia dengan budaya aslinya. Sehingga jika kita masuk rumah-rumah Jepang kita langsung bisa mengatakan, ini rumah orang Jepang.

Saat kita berjalan-jalan di perkampungan2 Jepang, kita akan melihat huruf2 Jepang, orang2 berbahasa Jepang dan aneka asesoris khas Jepang lainnya. Ya, Jepang memang sudah modern tapi mereka tidak kehilangan Jati Dirinya sebagai bangsa.

Bagaimana dengan Indonesia. Apakah Jati Diri bangsa ini?

Pertama tentu saja budaya. Ada banyak ragam budaya di Indonesia, bahkan di Jawa kita memiliki tulisan Jawa. Gak kalah dengan Jepang, tulisan aksara Jawa sangat mudah dipelajari. Jadi seharusnya bisa mulai diperkenalkan. Minimal dipajang di beberapa tempat umum seperti di Jogja.

Itu dari tulisan, lalu soal tari-tarian yang banyak ragamnya. Sekarang ini jarang kita lohat lagi pertunjukkan tari. Bahkan tari Remo yang biasanya mengawali acara2 kenegaraan sudah tidak ada. Padahal dulu hampir tiap ada acara besar seperti peringatan 17-an tari Remo selalu menjadi pembuka. Tapi sayangnya sekarang ini tari2an sudah di modif dengan musik2 modern sehingga kelemah lembutannya menjadi sirna.

Kalau di Jepang, hampir di tiap rumah ada samurai. Tapi sayangnya di tanah air kita ini jarang kita dapati asesoris khas Indonesia seperti keris, rencong, dll. Untung saudara kita di madura masih suka menggantungkan celurit senjata khas pulau garam itu di tembok rumah mereka.

Maka satu-satunya cara untuk mengembalikan Jati Diri bangsa ini adalah dengan mulai memanfaatkan dan menggunakan budaya-budaya asli Indonesia dengan semaksimal mungkin. Memang butuh waktu dan pembiasaan, tapi lambat laun pasti bisa.

Silahkan Berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s