Ketika Ghibah dan Fitnah Lebih Dipercaya

Ghibah alias Rasan-rasan

Ghibah alias Rasan-rasan

Hari ini, hukum seakan tak punya taring dan tak mampu menunjukkan keadilannya di hadapan manusia. Aparat penegak hukum yang seharusnya menjadi penjaga terdepan tegaknya keadilan justru menjadi sarang perusak hukum itu sendiri. Mulai makelar kasus, korupsi hingga pengedaran narkoba tak sedikit melibatkan para aparat. Belum lagi hukum membuktikan dirinya sebagai pihak yang tak mampu berbuat adil. Bagaimana mungkin seorang pencuri ayam dihukum hingga 6 bulan penjara dengan fasilitas serba minim. Sementara mereka yang terbukti korupsi milyaran rupiah mendapatkan hukuman kurang dari 5 tahun itupun dengan aneka grasi dan potongan sehingga hanya dijalani 2 tahun saja.

Namun, sebagai seorang muslim, kita diwajibkan untuk percaya bahwa keadilan yang sesungguhnya bukanlah di dunia melainkan di akherat. Mereka yang hari ini bebas walau jelas-jelas bersalah, atau mereka yang dengan aneka cara berhasil lolos dari jerat hukum mungkin akan tersenyum hari ini. Namun, Allah tidaklah tinggal diam. Kelak di akherat, Allah akan berikan hukuman yang paling adil dan seadil-adilnya. Bahkan tak jarang, hukuman itu sudah mulai diberikan di dunia mulai aneka penyakit aneh yang tak pernah ditemukan sebelumnya, anak yang tak punya bakti dengan orang tua atau kasus-kasus yang dilakukan anak yang mencoreng nama baik orang tua.

Sayangnya kemudian, banyak umat Islam seperti tak percaya akan hadirnya hari Kiamat sehingga ketidak adilan di dunia kemudian menjadi dalil untuk melegalkan Ghibah dan Fitnah. Dengan dalih ingin menegakkan hukum mereka kemudian membicarakan kesalahan-kesalahan orang lain lewat berbagai sosial media. Hukum apa yang ingin ditegakkan? Apakah dengan membicarakan kesalahan2 mereka kemudian mereka jadi masuk penjara? Enggak juga.

Apakah dengan memfitnah lewat twitter mereka kemudian jadi dipecat? Sayangnya gak mungkin. Jadi untuk apa? Kecuali hanya sekedar untuk merusak nama baik seseorang dan memperturutkan nafsu syetan.

Bagaimana dengan kita yang kemudian percaya dengan aneka cerita omong kosong itu dan tanpa bukti apapun? Bagaimana kita kemudian jadi membenci saudara kita sendiri tanpa mau melakukan cross check? Bagaimana kemudian kita memfitnah seseorang hanya karena orang itu dibilang jelek perilakunya di social media?

Bayangkan kita makan bangkai yang membusuk. Seperti itulah kita ketika mengupas kebusukan saudara kita sendiri. Itulah yang terjadi tatkala kita lebih percaya ghibah dan fitnah daripada hukum dengan bukti nyata.

Saudaraku… Allah itu ada. Jangan sampai kita mati-matian menjelekkan saudara kita lalu kita kaget sendiri tatkala di akherat tiba-tiba semua amal kita lenyap dan harus diserahkan padanya. Hingga kemudian orang yang kita anggap seperti firaun justru masuk surga sementara kita yang merasa seperti malaikat malah masuk neraka.

Mari beristighfar dan memperbanyak istighfar.. Semoga Allah menguatkan umat ini dengan prasangka baik.. Aamiin…

2 thoughts on “Ketika Ghibah dan Fitnah Lebih Dipercaya

  1. Pingback: 10 Dosa Besar AHER « millahanifah

Silahkan Berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s