Pacaran atau Nikah Cerai?

Nikmatnya pacaran SETELAH pernikahan

Nikmatnya pacaran SETELAH pernikahan

Kalau pertanyaannya pacaran atau nikah aja kadang masih bingung mau jawab, saya coba lebih memberi kebingungan lagi yaitu pilih mana antara pacaran dan nikah dengan resiko cerai. Bagi yang berpikiran jangka pendek mungkin akan memilih pacaran saja. Tapi yang berpikir jangka panjang pasti akan memilih nikah walau resikonya bercerai nantinya. Nah, sebelum memutuskan, silahkan baca dulu keterangan dari saya ini. Setelah itu, coba jawab kembali mau pilih tetap pacaran ataukah langsung nikah dengan resiko bercerai kemudian?

Seorang wanita, adalah pihak yang sangat dirugikan saat pacaran. Kenapa? Jika pacarannya sehat aja, artinya gak pake esek-esek jadi cuma didatangi cowok, dibonceng kesana-sini, cibiran tetangga dan lingkungan akan langsung jadi meluncur. Kenapa? Karena biasanya cowok yang mendatangi rumah cewek. Di lingkungan si cowok ya nggak terjadi apa-apa wong gak pernah kelihatan di rumah. Apalagi kalau kemudian cowoknya berpenampilan “keren” alias lebih mirip preman, maka makin menjadilah cibiran tetangga.

Dengan berpacaran, seorang cewek juga telah menyapu bersih semua calon suami yang baik. Ya, siapa juga yang mau dapat istri bekas. Apalagi kalau sudah dibonceng kesana sini. Teman-temanmu yang cowok yang lebih siap menikah pasti enggan memilihmu. Bahkan ketika cewek itu putuspun dengan si pacar, butuh waktu agar para cowok menyadari nih cewek sudah jomblo lagi. Sementara cowok2 baik yang lebih mencari istri akan tetap aja ogah mendekat kcuali terpaksa hehehe…

Bagaimana kalau sampai terjadi esek-esek. Ini jelas amat sangat merugikan cewek. Gak hamilpun kehormatan sudah melayang. Beda dong barang orisinil dengan barang bekas apalagi KW. Maka dapatnya nanti juga lelaki bekas atau lelaki KW yang sudah pernah gonta-ganti cewek juga.

Seringkali pacaran jadi alasan untuk saling mengenal. Saya coba tanya, seberapa kenal kamu dengan pacarmu dibanding orang tuanya mengenal dirinya? Mereka yang masih pacaran dijamin 100% akan menutupi kebenarannya. Dia akan tahan2 hingga nikah nanti. Belum lagi syetan akan bantu menutup-nutupi kekurangan pacar. Kalau ketahuanpun syetan akan membesarkan hati dengan mengatakan gakpapa kita harus menerima pasangan apa adanya. Gak ada manusia yang sempurna… hehehe..

Sementara jika memilih ta’aruf dimana kita langsung mendatangi keluarga calon dan menanyakan banyak hal yang bisa kita lakukan lebih dari satu kali pertemuan tentu akan lebih jelas bagaimana calon pasangan kita. Ta’aruf sangat berbeda dengan pacaran. Ta’aruf tidak dilakukan dengan berkhalwat alias berdua-duaan. Proses ta’aruf setidaknya menghadirkan orang ketiga yaitu orang tua calon. Bahkan biasanya malah berempat atau berlima karena ayah ibu calon hadir dan kita didampingi oleh murobbi atau rekan kita.

Dengan proses seperti itu, mungkinkah terjadi kemaksiatan? Sangat tak mungkin. Bahkan kita akan malu sendiri saat curi-curi pandang calon. Curi-curi pandang pun masih diijinkan karena memang saat ta’aruf kita diijinkan untuk melihat calon mempelai. Saat ta’aruf ini kita boleh menanyakan apa saja. Kebiasaan dia, kelebihan, kekurangan, udah ada yang meminang atau belum, dan tentunya pertanyaan penting yaitu apakah si dia mau menerima kita sebagai pasangan.

Walaupun kadang masih ada yang ditutupi, tapi orang tua cenderung lebih jujur perihal anaknya. Dalam pikiran mereka yang lebih dewasa tentu akan mempertimbangkan masak-masak jika sampai berbohong. Sedangkan jika langsung ke calon, sudah pasti sangat mudah berbohong dan menampilkan hanya yang baik-baik saja.

Jika memang belum puas bertanya, bisa diatur pertemuan berikutnya. Sebanyak apapun boleh asalkan itu tadi harus ada setidaknya 3 orang dalam majelis dan salah satunya adalah wali dari calon perempuan. Karena hanya dengan wali inilah kita harusnya berbincang-bincang. Jika kemudian sepakat untuk menikah, tinggal cari deh waktu yang tepat atau bisa langsung saat itu juga hehehe…

Saya pernah dapat cerita seorang ikhwah diminta murobbi-nya untuk mendatangi ortu calon yang ditunjuk oleh si murobbi. Karena kebetulan beliau gak bisa mendampingi akhirnya ikhwah ini mengajak temannya. Berangkat deh dengan semangat 45 ke rumah calon. Alhamdulillah… alamat yang diberikan murobbi hilang hehehe… Akhirnya berangkat pagi, baru nyampe rumah calon ba’da isya’.

Ta’aruf malam itu juga dan kemudian nikah saat itu juga. Maklum ortu calon adalah ustadz juga. Dan apa mas kawinnya? Mushaf Al-Quran saku milik temannya hehehe…

Ketakutan mereka yang enggan menikah adalah perceraian. Mereka takut jika setelah menikah ternyata tidak cocok. Jika diawali dengan pacaran, resiko itu pasti ada. Karena itu tadi, pacar takkan pernah jujur pada kita. Pasti menutupi kekurangan semaksimal mungkin. Kenapa? Karena takut diputus pacar dan gak dapat ganti. Apalagi kalau proses mendapatkan pacar butuh perjuangan, pasti makin keras juga usahanya menutupi kekurangan. Lha sudah susah payah dapatinnya kok.

Beda kalau dengan ta’aruf. Karena tak ada pengorbanan apa-apa, gak perlu traktir, gak perlu belikan ini dan itu akhirnya enteng aja tanya ini dan itu. Pihak wanitapun juga dengan enteng jawab ini dan itu karena tak ada beban apapun. Mau silahkan lamar, gak mau ya silahkan pergi. Tanpa beban hingga lebih jujur, toh gak ada hutang budi apapun.

Ketika kita sudah mendapati kenyataan ini dan itu calon pasangan lalu dengan pertimbangan dan istikharah kita kemudian memutuskan untuk menjadikan dia istri, maka kita jauh lebih siap karena kita sudah mempersiapkan diri dengan semua kekurangan yang ada pada pasangan.

Coba bayangkan kita beli sarung, kita sudah buka-buka tuh sarung dan berdasarkan analisa sarung itu bagus. Lalu kita beli. Ternyata setelah sampai rumah, ternyata warnanya mudah luntur, jahitannya juga mudah lepas. Bagaimana perasaan kita?

Bayangkan lagi kita beli sarung, sarung itu disegel rapat dan kita tak boleh menyentuhnya. Sang penjual dengan jujur bilang. Mas, sarung ini mudah luntur, jahitannya juga kurang rapi karena dikerjakan borongan. Tapi tinggal ini yang saya miliki dan harganya juga sepadan dengan kualitasnya. Kitapun membelinya. Sampai rumah apa yang kita lakukan? Pasti ketika mencuci kita pisahkan agar tidak luntur ke pakaian lain, kita juga mungkin akan menjahit kembali agar kuat dan lebih rapi. Dan saya yakin tak ada kata mengeluh karena sejak awal kita tahu tuh sarung gampang luntur dan jahitannya kurang rapi.

Maka, mungkinkah kemudian terjadi perceraian? Jawabnya sangat tidak mungkin. Dan kenyataan menunjukkan, perceraian terbanyak justru dialami oleh pasangan yang kenalannya lewat pacaran. Peringkat kedua adalah pasangan yang dijodohkan tanpa ada kesempatan ta’aruf. Tapi ini jumlahnya jauh lebih sedikit dan peringkat ketiga yang hampir tidak ada (karena biasanya malah punya anak banyak-banyak hehehe) adalah mereka yang memulai perkenalan lewat proses ta’aruf.

Pernikahan juga akan melindungi seorang wanita. Jika sang suami tidak bisa menjadi suami yang baik, dia bisa mengajukan gugatan ke pengadilan. Jika suami seenaknya saja menceraikan istri walaupun dalam hukum Islam cukup lewat lisan, tapi untuk bisa mendapatkan surat cerai butuh proses dan istri bisa menggantung statusnya (setidaknya sampe dapat calon suami baru hehehe). Selama surat cerai itu belum ada, maka statusnya secara hukum masih istrinya dan ketika suami itu mau nikah lagi, dengan mudah bisa digagalkan saat menunjukkan surat nikah. Buyar deh pernikahan suami brengsek itu.

Maka wahai para wanita, katakan pada pacarmu, lamar aku sekarang kalau ndak, ortuku akan mencarikan suami untukku karena kamu hanya mau main-main saja denganku… Dan bagi yang belum berjodoh sudah menjadi kewajiban seorang ayah untuk mencarikan jodoh bagi anaknya. Jangan sampai anak2 gadismu mengumbar aurat hanya demi mendapat jodoh. Jika sampe itu terjadi, maka kita sebagai ayah yang berdosa. Apalagi sampai gara2 upaya anak gadis kita mendapat jodoh menyebabkan dia berzina dengan pacarnya. Na’udzubillah…

One thought on “Pacaran atau Nikah Cerai?

Silahkan Berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s