Mengukur Keikhlasan

Ikhlas Inside

Ikhlas Inside

Hari ini kita banyak menemui aneka tudingan atas keikhlasan seseorang. Padahal yang tahu persis keikhlasan seseorang hanyalah Allah dan yang bersangkutan. Apakah seseorang yang beramal kemudian mengumumkan amalnya ke khalayak disebut tidak ikhlas? Apakah seseorang yang melakukan amalan pada tengah malam tanpa seorangpun mengetahui apa yang dia perbuat disebut ikhlas? Bagaimana mengukur keikhlasan diri? Bisakah mengukur keikhlasan seseorang?

Ikhlas itu menyandarkan segala perbuatan amaliyah kita hanya pada Allah. Ikhlas sangat erat hubungannya dengan tauhid. Karena itu tak salah jika riya’ alias lawan dari ikhlas disebut merupakan syirik yang kecil. Karena dengan riya’ kita telah menduakan Allah, berbuat sesuatu bukan karena Allah.

Saya sendiri menilai keikhlasan diri menggunakan emosi. Maksudnya bagaimana?

Jika kita melakukan sesuatu lalu perbuatan itu diketahui seseorang dan kemudian orang tersebut mengatakan, “Huh…. amal kok dikasih tahu orang lain. Gak ikhlas itu namanya!” lalu kita tersinggung, maka kita sudah dapat disebut riya’. Karena dengan tersinggung artinya kita ingin dipuji. Kita jadi marah karena malah mendapatkan hinaan padahal mengharapkan pujian dari makhluk lain.

Termasuk dalam riya’ adalah jika kita misalnya menyumbang ke sebuah masjid malam-malam. Tiap hari 1 juta hingga tiba-tiba saja di kotak masjid terkumpul 30 juta sebulan hingga akhirnya masjid itupun terbangun dengan cepat karena dana yang sangat mencukupi. Kita tahu pasti 90% dana pembangunan itu adalah dari uang kita dan tak ada seorangpun yang tahu. Nah, kemudian datanglah tetangga kita yang takmir masjid ke rumah lalu berkata,”Maaf pak, masjid sudah jadi tinggal beli sound system saja. Semua warga sini sudah menyumbang tinggal bapak saja”. Jika kita kemudian tersinggung, jatuhlah kita pada riya’.

Alhamdulillah kita tak tersinggung, tapi karena keterbatasan dana kitapun menyumbang 100rb. Eh, ternyata takmir lain kirimkan desas-desus ke warga yang intinya mencibir kita. “Masak orang kaya nyumbang cuma 100rb saja”. Gimana? Hehehe….

Maka mengukur keikhlasan diri itu sangat mudah. Kuncinya:

“Tidak tersinggung saat dihina dan tidak bangga saat dipuji”

Jadi tetap netral saja. Gak peduli dihina atau dipuji kondisi emosi kita tetap normal-normal saja. Dan tak perlu juga melakukan klarifikasi apapun. Jika kemudian kita dikonfrontir tinggal bilang saja, “Iya, terima kasih atas kritikannya. InsyaaLlah jadi perbaikan di kemudian hari”.

“Termasuk riya’ apabila kita takut riya hingga tidak meneruskan amaliyah”

Ada juga dari kita yang amaliyahnya sangat bagus hingga kemudian orang-orang mulai memuji dan menyanjungnya. Karena terlalu banyak pujian akhirnya kita justru takut riya’ hingga berhenti beramaliyah. Nah, ini juga termasuk riya’ karena kita beribadah sudah bukan karena Allah tapi karena manusia. Kita berhenti beribadah juga karena manusia.

Jadi bagaimanakah ikhlas itu yang paling tepat?

Saya sering mengukur keikhlasan paling sempurna itu seperti kondisi emosi ketika buang air besar. Bagaimana emosi kita waktu itu? Apakah merasa bangga? Apakah merasa terhina? Saya yakin gak merasa apa-apa kecuali merasa lega saja kotoran sudah keluar.

Demikian juga saat beribadah. Kondisi emosi nyantai saja. Justru lega dan tenang karena sudah menunjukkan pengabdian kepada Allah. Dalam hati kita hanya ada Allah saja. Gak peduli orang mau ngomong apa. Gak peduli orang bilang kita riya’, orang bilang kita alim, orang bilang kita ini dan itu semua gak penting. Dalam hati hanya ada satu pertanyaan, “Ibadahku yang seperti ini kira-kira Allah ridlo gak ya? Allah senang gak ya? Allah ampuni dosa-dosaku apa ndak ya?” Hanya ada Allah..Allah dan Allah saja.

Maka kesimpulannya, tiada yang dapat mengukur keikhlasan seseorang kecuali orang itu sendiri dan Allah. Apakah mereka yang marah ketika kita hina menunjukkan riya? Juga belum tentu. Karena adakalanya dia tidak marah. Saya sering lho berkata biasa saja, sama sekali tak ada rasa marah atau emosi tapi dibilang marah hanya gara-gara mengcounter pernyataan yang menghina. Jika marah atau tidaknya seseorang saja kita tak dapat mengukur, apalagi tentang keikhlasan seseorang.

Sikap terbaik yang bisa kita lakukan bukanlah berkomentar, tapi meniru jika ada orang yang berbuat baik dan memberikan nasehat yang baik saat bertemu orang yang berbuat salah. Semoga Allah memberi kita kemampuan untuk senantiasa beribadah dengan ikhlas hanya untuk Allah semata.

Silahkan Berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s