Labuhan Hati

Sungguh indah permata dunia
Intan mutu manikam, emas dan berlian,
yang memikat hati
Namun tiada seindah bunga
Wanita sholihah harapan agama

Mencipta rumahnya seindah surga
Menjaga akhlaqnya sebening mata
Qonaah selendangnya dalam rumah tangga
Sejuk di kalbunya, tunduk pandangnya

Kini aku telah mendapatkan
Apa yang dijanjikan oleh Tuhan
Betapa bahagia hati ini
Bersama karunia dari-Mu Ilahi

Nasyid Labuhan Hati
by: Suara Persaudaraan

Membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah adalah dambaan setiap insan. Keluarga adalah pondasi suatu negeri. Kokohnya keluarga2 akan menjamin kokohnya masyarakat dan negara.

Tapi bagaimana menciptakan keluarga dengan suami istri yang selalu menyayangi hingga akhir hayat nanti? Dalam sebuah penelitian yang melibatkan banyak pasangan ditemukan bahwa cara pandang kita terhadap pasangan menentukan lama tidaknya hubungan suami istri.

Mereka yang hubungannya awet hingga puluhan tahun mengarungin bahtera rumah tangga, hingga memiliki anak cucu bahkan cicit dan tetap mesra meski di usia senja ternyata memandang pasangannya dengan imajinasi positif.

Sebenarnya semua orang mampu memandang pasangannya secara imajiner. Hanya saja pandangan imajiner itu ketika sudah menikah jarang sekali dipakai. Justru cara pandang imajiner ini lebih sering dipakai oleh mereka yang masih belum menikah.

Imajinasi positif adalah memandang hanya kebaikan pasangan dan melebih-lebihkan kebaikan itu. Bukan cuma memandang kebaikan saja, imajinasi positif juga memandang kekurangan pasangan sebagai hal yang menarik juga.

Lihat orang pacaran, meski di depan matanya ngupil pasti bilangnya, oh dia itu orangnya memang pintar jaga kebersihan. Kalau pacar boros pasti dibilang, gak boros kok, dia memang membeli apa yang diperlukan. Itu memang kebutuhannya. Kalau pacar suka telat pasti dibilang dia kan orang sibuk, jadi wajar dong kalau telat beberapa menit aja. Ketika pacar gak balas SMS, bilangnya ah si dia mungkin lagi kehabisan pulsa. Aku isikan aaah…

Anehnya keahlian ini justru sirna tatkala pasangan sudah menikah. Maka tak heran jika hubungan suami dan istri kemudian makin renggang. Hubungan semakin renggang lagi tatkala hadir putra pertama, kedua atau ketiga. Kesibukan sang ayah dan sang ibu makin menambah kerenggangan. Di rumah jarang ngobrol, di kamar hanya molor.

Menaklukkan Harimau Lapar

Ada satu cerita di tanah tiongkok seorang istri yang mengeluhkan suaminya yang dia nilai kasar, suka membentak bahkan pernah memukulnya kepada seorang pertapa. Sang pertapa kemudian memberi dia sebuah ramuan lalu berkata, “Ramuan ini akan dapat menaklukkan suamimu. Dia akan menuruti apapun yang kau mau. Tapi ada satu bahan yang belum lengkap dan kau harus menambahkannya sendiri”.

Istri itu bertanya, “Bahan apa itu pertapa?”
“Tiga helai kumis harimau di gunung itu”, jawab si pertapa.

Memang di gunung dekat desa tersebut ada seekor harimau yang dikenal sangat buas dan badannya besar. Para penduduk sangat ngeri untuk masuk ke dalam hutannya terlalu dalam. Tapi demi menaklukkan hati sang suami, si istri inipun bertekad pergi untuk mendapatkan kumis harimau itu.

Dia ke pasar membawa sebongkah daging segar lalu berangkat menuju sarang harimau itu. Sesampai disana dilihatnya harimau itu sedang duduk bermalasan di dekat sarangnya. Dia melemparkan daging itu lalu lari bersembunyi. Harimau itu semula curiga dengan daging itu. Setelah diendus-endus kemudian dimakannya dan dia kembali ke sarangnya.

Esok harinya kembali sang istri menemui harimau, kali ini harimau itu melihatnya. Diletakkannya daging itu lalu dia lari bersembunyi. Harimau masih curiga, dia mengendus-endus lalu memakannya. Demikianlah, setiap hari sang istri naik gunung masuk hutan memberi daging lalu bersembunyi.

Setelah seminggu, dia coba meletakkan daging tapi hanya mundur beberapa langkah saja. Harimau hanya makan daging pemberian si istri itu dan kembali ke sarangnya. Esok hari dia memberi daging tapi mundurnya lebih mendekat. Begitu setiap hari hingga seminggu.

Di pekan ketiga sang istri memberi makan harimau langsung dari tangannya. Harimau itu sudah mulai mengenalnya, dia makan dengan lahap bahkan tak menolak saat jemari wanita itu mengelus kepalanya. Bahkan keesokan harinya sang Harimau malah tiduran di dekat si wanita. Seminggu berjalan hingga masuk pekan keempat.

Pada pekan keempat ini wanita itu mengelus-elus kumis si harimau sambil berkata, “Harimau yang perkasa, aku mohon maaf ya, aku butuh sehelai kumismu hari ini. Kuharap engkau tak keberatan aku memintanya”. Diapun mencabut bulu kumis harimau. Harimau itu mengaum keras karena kaget dan sakit. Tapi ketika kepalanya dielus-elus oleh sang istri itu, diapun tenang dan kembali terlelap.

Esok hari kembali istri itu mencabut kumis harimau dan lusanya kembali dia mendapatkan kumis yang ketiga. Betapa senangnya sang istri itu karena kini lengkaplah sudah ramuan ajaib penakluk hati suaminya. Dengan wajah berbinar dia mendatangi pertapa itu untuk menyerahkan 3 kumis harimau.

“Sungguh kamu mencabutnya langsung dari harimau itu?”
“Benar wahai pertapa. Aku mencabutnya dengan tanganku sendiri.”
“Bagaimana bisa kau mencabutnya tanpa membuat harimau itu marah dan mencabik-cabik dirimu”
Istri itu menerangkan bagaimana dia menaklukkan si harimau dengan trik dagingnya.

Si pertapa tersenyum lalu melempar 3 helai kumis itu ke perapian. Sang istri kaget, air matanya berlinang. Betapa tega si pertapa membuang begitu saja hasil jerih payahnya sebulan ini dengan resiko nyawa yang jadi taruhannya.

Pertapa itu berkata, “Jika harimau paling buas saja dapat engkau taklukkan, apalah artinya dibanding suamimu?”

Si istri itu tersadar, benar sekali. Harimau buas saja bersedia memberikan kumisnya, apalagi hanya seorang suami. Diapun menyadari bahwa selama ini dia kurang melayani sang suami sehingga suaminya kesal dan sering marah. Diapun sadar bahwa selama ini tak pernah menghargai sedikitpun jerih payah suaminya.

Saudaraku…
Meski cerita di atas tentang seorang istri, tapi pelajarannya dapat diambil oleh seorang suami. Jika istri mulai terlihat tidak sayang, jangan-jangan memang kitanya yang kurang memberikan kasih sayang. Sudah berapa kata cinta yang kita berikan hari ini? Jangan sampai kita kalah dengan mereka yang menjalani hubungan diluar kehendak Allah. Mereka begitu mesra, mengobral kata cinta hampir setiap menitnya. Sedangkan kita yang sudah berkeluarga, jangan-jangan malah tak pernah lagi mengatakan cinta sejak Akad Nikah.

So, abis baca artikel ini segera temui istri atau suami anda lalu katakan, “Sayang, terima kasih ya sudah bersamaku selama ini. Aku mencintaimu… “

Silahkan Berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s