Perjalanan Menuju Idealisme

bayiSemua orang berharap sesuatu yg sempurna, serba benar dan tanpa sedikitpun kesalahan. Namun sayangnya, tidak ada hal yg sempurna di dunia ini karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Ketika kita ingin menerapkan sebuah konsep ideal sebuah peradaban Islam, maka akan sulit meminta orang lain yg mewujudkan idealisme itu sementara kita hanya merong-rong orang lain ketika idealisme itu tak jua terwujud.

Saya sendiri lebih menyukai konsep natural sebagaimana Allah menciptakan alam ini. Contohnya proses penciptaan manusia. Manusia lahir apakah langsung bisa bicara? Langsung bisa berjalan? Langsung bisa berpikir sempurna? Jawabnya tidak. Bahkan secara fisikpun organ2-nya belum terwujud dg sempurna, apalagi pemikirannya.

Hari demi hari kemampuannya terus bertambah seiring bertambahnya usia. Bulan ganti bulan dan tahun berganti tahun hingga manusia inipun menjadi manusia yg sempurna baik fisik maupun jiwanya. Sudah bisa berpikir dg baik, sudah mampu membedakan mana yg haq dan mana yg bathil.

Sejak keruntuhan khilafah tahun 1924 dan umat Islam dihantam dg pemerintahan yg dzalim, daulah Islamiyah ibarat bayi yg baru lahir. Kita blm bisa berjalan, hanya bisa menangis dan menangis. Tapi sayang, ada sekelompok orang yg kurang sabar menanti bayi ini tumbuh. Bayi yg masih kanak2 ini sudah dimintai tanggung jawab laksana orang dewasa. Repotnya lagi mereka hanya sebatas mengkritik dan menjejali dg teori2 tanpa pernah menunjukkan miniatur peradaban Islam itu spt apa.

Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw juga tidak langsung besar dan mendunia. Tapi Islam dipraktekkan dlm lingkungan keluarga dan penduduk kota mekkah yg kala itu luasnya tak lebih lebar dr sebuah kelurahan. Bahkan ketika Rasulullah hijrah ke Kota madinah yg kemudian menjadi miniatur peradaban Islam juga luasnya tak lebih besar dari sebuah kelurahan saat ini.

Nah, alangkah eloknya sebelum kita meminta orang lain menerapkan syariat Islam, menerapkan hukum Islam, menerapkan sebuah pemerintahan yg Islami maka terlebih dahulu kita membuat sebuah miniatur pemerintahan ala minjahul an-nubuwwah.

Tak perlu besar2 hingga tingkat kelurahan, cukup tingkat RT/RW saja. Jika dg tatanan itu kita bisa bawa kesuksesan, menjadikan warganya benar2 sejahtera sebagaimana janji2 yg mereka berikan dlm brosur2nya, maka tak perlu koar2 kemana2 tetangga RT/RW sebelah pasti akan meniru.

Konsep khilafah Islamiyah ini bagi generasi sekarang kan masih dianggap konsep baru. Mereka belum melihat secara langsung bagaimana indahnya konsep ini. Maka mereka masih akan menganggap konsep ini hanya sekedar konsep dan retorika sebagaimana kampanye para politisi yang mengumbar janji-janji manis nan indah walau tak pernah diwujudkan.

Memang menjadi seorang komentator dan tukang protes amat sangat jauh lebih mudah daripada mewujudkannya. Contohnya saat ini ketika presiden mesir Dr. Muhammad Mursi berjuang menegakkan sebuah negara dengan dasar Islam, orang-orang kafir menghajarnya bukan hanya secara fisik dengan membayar preman-preman dan pemabuk mesir, mereka juga melayangkan propaganda melalui berbagai media yang mereka miliki. Bahkan ketika seluruh elemen Islam di Mesir kemudian bersatu, tak disangka mereka yang berkoar tentang tegaknya Khilafah justru menusuk dari belakang dengan melakukan propaganda negatif dengan dasar dari koran Israel dan video yang translatenya saja keliru. Tak ada tabayyun tak ada upaya pertolongan terhadap saudaranya yang sedang berjuang.

Jika membayangkan ke negeri Mesir terlalu jauh, hal yang sama ternyata terjadi juga di negeri kita. Ketika kita meminta mereka membantu perjuangan dakwah ini, mereka menolak bahkan cenderung memberatkan perjuangan. Ketika kemudian perjuangan mulai berbuah dan banyak ikhwah mulai mendapatkan kepercayaan rakyat dengan memimpin di parlemen dan eksekutif dengan tiba-tiba mereka kemudian menuntut kita berjuang menegakkan syariat Islam.

Tak perlu anda suruh, tak perlu anda protes, kita semua juga sedang berjuang agar dienul Islam tegak sebagaimana wasiat Rasulullah saw bahwa nanti kita akan dipimpin oleh pemimpin yang menjalankan khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Tapi sebagaimana perjuangan Rasulullah, menegakkan sebuah pemerintahan Islam bukanlah sulap atau magic. Bukan hanya dengan sebar brosur dan seminar. Tapi dengan memberi pengaruh pada masyarakat, menjadi sales serta menunjukkan secara nyata konsep Islam.

Bagaimana mungkin sebuah negeri kemudian menjalankan syariat Islam jika rakyatnya enggan sholat. Rakyatnya tak paham bahwa jilbab itu wajib. Rakyatnya masih doyan ke pelacuran. Jika dipaksakan tegak, yang ada justru demo kekejian Islam. Pertunjukkan qisas, rajam dan potong tangan. Alhasil, bukannya keindahan yang dirasakan tapi justru kengerian.

Sebelum Rasulullah ke Madinah, beliau mengutus Mush’ab bin Umair. Apa yang dilakukan mush’ab? Apakah langsung melakukan kudeta? Mengompori orang2 agar mau masuk Islam? Tidak. Beliau mempromosikan Islam sebagai sebuah solusi yang indah dan beliau membuktikannya sendiri dalam pribadinya yang bersahaja. Dan benar, tatkala Islam hadir, keadaan Madinah benar-benar berubah total. Suku-suku yang doyan perang, suasana mencekam sepanjang waktu berubah jadi damai dan tentram. Rasulullah mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar, mengikat mereka dengan ikatan persaudaraan dan pernikahan.

Bayi itu kini sedang beranjak dewasa, sedang matang-matangnya. Karena itu semua pihak mulai mengincarnya. Berusaha merusak akhlaqnya dengan berbagai macam godaan. Maka sudah saatnya kita melindungi remaja ini, menjaganya agar tegaknya khilafah dan terwujudnya tatanan dunia berdasarkan manhaj nubuwwah…

Silahkan Berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s