Antara Facebook, Twitter dan WordPress

kartun-chatting-facebookSaat ini saya mengelola setidaknya 3 akun pribadi. Akun twitter, facebook dan wordpress ini. Semua free dan insyaaLlah semua terarsip dengan baik. Tapi efektifitas ketiganya benar-benar berbeda sehingga terkadang membuat saya kebingung sendiri bagaimana mengelola aneka macam tulisan yang sudah saya buat.

Twitter adalah mikro blog yang sangat efektif dan cepat dalam menerima berbagai masukan baik masukkan dalam bentuk tulisan maupun foto. Misalnya saya ada acara yang cukup bagus, saya bisa langsung kultwit materi acara tersebut atau istilahnya live tweet. Namun kendala yang terjadi kemudian adalah ternyata kultweet itu kurang terarsip dengan baik sehingga teman-teman yang di facebook agak kesulitan memantaunya.

Facebook menurut saya sudah cukup memenuhi berbagai kebutuhan saya akan sharing ilmu yang saya miliki. Hanya saja, facebook masih punya keterbatasan. Kita tak bisa melakukan sharing tulisan yang kompleks. Dan yang kurang nyaman adalah seringkali tulisan kita begitu cepat lenyap dan sulit menemukannya kembali ketika sudah ada tulisan-tulisan lain yang bertumpuk berikutnya.

WordPress sebenarnya jawaban yang paling tepat untuk semua kebutuhan saya akan publikasi. Namun lagi-lagi kendala yang terjadi adalah masalah visitor. Dibanding menulis di facebook, menulis di blog ini kurang interaktif. Memang ada yang berkunjung, namun dari pengunjung yang sedikit itu, jarang sekali ada yang komentar.

Ini berbeda dengan ketika saya menulis di facebook. Tulisan saya akan mendapat banyak masukkan mulai like, komentar bahkan ada yang sharing. Respon dari teman-teman akan menimbulkan semangat tersendiri untuk terus menulis dan memperkaya tulisan. Sangat mudah memperbaiki tulisan jika ada masukkan dari orang lain. Akan mudah memperkaya khazanah jika ada yang bertanya hal-hal yang luput dari pandangan kita.

Lalu bagaimana solusinya?

Untuk saat ini yang terpikirkan oleh saya adalah memanfaatkan ketiganya untuk menyerap sebanyak mungkin karya tulis saya dan semuanya harus berakhir di blog ini. Tapi tak semua tulisan itu saya masukkan, mungkin hanya tulisan-tulisan yang cukup panjang atau status pendek yang kemudian jadi perbincangan seru di facebook.

Saya juga mematikan koneksi dari ketika akun itu sehingga semua akan berjalan sendiri-sendiri sesuai kaidah dan fungsinya. Jadi, misalnya saya melakukan kultweet di twitter, maka kultweet itu akan tetap berada disana hingga saya memindahkannya ke facebook atau blog ini. Maka twitter akan menjadi draft awal dari tulisan saya.

Dari twitter saya akan menyatukan tweet2 itu dan memindahnya ke facebook untuk mendapatkan respon dan memperkaya isinya. Kalau sudah cukup, maka bisa dipindah ke blog ini untuk diarsipkan.

Memang sih, tak ada manfaat secara finansial dari aktifitas tersebut. Tapi sebuah karya tulis yang mungkin bagi kita adalah hal sepele, boleh jadi adalah merupakan hal penting di masa mendatang. Sebagaimana mainan anak-anak di jaman firaun yang sekarang menjadi obyek penelitian pada ahli purbakala.

One thought on “Antara Facebook, Twitter dan WordPress

Silahkan Berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s