Menulis.. modal besar di masa depan

menulisAkhir-akhir ini saya merasakan ada gairah yang menurun dalam dunia penulisan di blog. Tapi di dunia tulis menulis sendiri, gairah itu justru semakin berkibar. Banyaknya layanan SELF Publishing telah berhasil menelorkan buku-buku berkualitas yang sebelumnya dianggap tidak layak jual oleh para editor penerbit besar. Pun juga saya melihat gairah menulis di facebook dan twitter makin luar biasa saja.

Blog memang sedikit ditinggalkan karena cukup repot memang ketika harus berkunjung dari satu blog ke blog lain hanya sekedar ingin tahu apakah ada kabar terbaru dari teman kita. Sementara social media menjanjikan kemudahan itu. Hanya dengan melihat timeline, kita sudah dapat memantau kabar terbaru dari teman-teman.

Tak masalah sebenarnya apakah kita akan menulis di blog ataupun di social media. Selama tulisan-tulisan itu bisa tetap kita pertahankan intensitasnya. Dalam arti jangan sampai kita begitu semangatnya menulis ketika di awal-awal memiliki akun facebook namun di akhir-akhir kita jadi malas untuk menulis lagi.

Tak semua orang punya kemampuan menulis yang bagus. Sayangnya tak semua orang juga mau berupaya untuk berlatih. Menulis bukanlah pelajaran hafalan yang kita tinggal menghafal teorinya kemudian langsung bisa membuat tulisan yang bagus. Menulis adalah karya seni, dimana dia akan semakin sempurna tatkala terus diasah.

Saya sendiri bukan termasuk pengetik 10 jari. namun dalam keadaan tanpa melihat keyboardpun saya masih bisa tetap menulis. Kenapa ini bisa terjadi? Karena berlatih. Jika sudah terlatih, maka otak dan jemari akan sangat sinkron sehingga apa yang ada dalam pikiran kita bisa langsung tertuang dalam bentuk tulisan.

Bagi pemula mungkin ada baiknya juga menulis di kertas sebagai awal latihan. Saya dulu juga begitu. Saya punya banyak buku coret-coret bahkan setiap kali tahun ajaran baru saya kumpulkan lembaran-lembaran kosong dari tiap-tiap buku teks pelajaran untuk saya bendel menjadi sebuah buku corat-coret.

Alhamdulillah sebelum tahun ajaran berikutnya hadir, buku tebal itupun telah terisi penuh oleh berbagai ide dan gagasan yang saya tuangkan. Ada gambar-gambar lucu, ada tulisan-tulisan asal bahkan ada artikel-artikel yang penuh bobot. Seru rasanya.

Saya beruntung sekali karena lingkungan saya di remaja masjid ternyata mendukung sekali kegemaran saya menulis ini. Dua kali menjadi kepala seksi pendidikan membuat saya harus mampu menerbitkan majalah dinding masjid. Sebenarnya itu juga usulan saya sendiri sih hehehe… Padahal waktu itu belum punya komputer sehingga isi mading semua tulisan tangan.

Di masa sekarang ini segala sesuatunya harus dapat dirupakan dalam bentuk tulisan. Jarak jauh yang terhubung begitu dekat menggunakan internet menyebabkan transfer ilmu dan pengetahuan harus dilakukan dengan tulisan. Bisa saja kita menggunakan video, namun terlalu lama dan kurang bisa dinikmati dengan cepat. Sangat beda dengan tulisan.

Tulisan telah membuktikan diri sebagai karya yang paling bertahan lama dan mudah dipahami. Bagaimana ilmuwan dan sejarawan dapat memahami corak budaya masyarakat lampau semua berkat tulisan-tulisan mereka. Dan mungkin 100 tahun mendatang orang akan membaca tulisan-tulisan kita dan bagaimana perasaan kita di masa kini.

3 thoughts on “Menulis.. modal besar di masa depan

  1. Menulis perlu di latih ? jdi menulis itu bukan bakat yg di bawa sejak lahir yh ? waah jdi semangat pengin belajar nulis nih.. agar bisa berkarya.. hhe. terimakasih.. artikelnya menarik banget..

Silahkan Berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s