Seberapa Hebat Tabukmu?

perangDalam perang tabuk tersebutlah kisah seorang sahabat yang fenomenal yaitu Ka’ab bin Malik. Sahabat Ka’ab bin Malik ini tak pernah satu kalipun absen dalam peperangan bersama Rasulullah saw. Beliau senantiasa hadir dan ikut serta dalam tiap peperangan Rasulullah.

Nah, ketika perang Tabuk, beliau tidak ikut berperang. Padahal tak ada udzur syar’i saat itu. Saat Rasulullah telah bersiap berangkat sebenarnya Ka’ab sudah sangat siap dengan kuda dan perlengkapan perangnya. Namun beliau tak jua berangkat merapat ke barisan. Bahkan ketika pasukan Rasulullah berangkat, Ka’ab masih tidak beranjak dari rumahnya. Beliau menyangka bahwa dengan kuda yang dimiliki, dia akan bisa menyusul barisan Rasulullah.

Hingga akhirnya setelah perang Tabuk selesai dan Rasulullah telah kembali ke Madinah, Ka’ab pun tak berangkat ke medan jihad. Banyak sahabat munafikun yang kemudian mendatangi Rasulullah dan menyampaikan berbagai macam alasan kenapa mereka tak berangkat berperang. Namun Ka’ab lebih memilih untuk jujur bahwa dia tak berangkat hanya karena kelalainnya dalam urusan dunia.

“Saya tak pernah memiliki dagangan sebanyak 2 muatan unta. Dan ketika perang tabuk itu, saya memilikinya”

Dakwah itu seperti perang. Tapi jauuuuh lebih enak dan nyaman. Dalam perang tabuk, kaum muslimin harus berjalan kaki menempuh jarak yang jauh di tengah terik panas gurun yang menyengat. Sesampainya di sana, mereka tidak berleha-leha, tidak lebih dingin, tapi justru berhadapan dengan tentara kafir bersenjata lengkap.

Jauh dibandingkan dengan dakwah. Meski jauh sekalipun, kita bisa menempuhnya dengan nyaman. Tersedia aneka kendaraan mulai motor, mobil, kereta api hingga pesawat terbang. Sesampainya di tempat dakwah pun kita masih bisa santai sejenak, menyampaikan risalah dengan nyaman, ada suguhan yang berselera bahkan ruangan ber-AC yang sejuk. Kita tidak berhadapan dengan tentara yang menghunus pedang dan bersenjata lengkap. Kita hanya berhadapan dengan jamaah yang datang untuk mendengarkan apapun yang kita katakan dan menyanjung serta menghormati kita.

Bahkan ketika dakwah itu berupa daurah-daurah dimana disana kita digembleng untuk meningkatkan kemampuan fisik dan kekuatan insting, kita masih bisa nyaman. Yang kita hadapi hanyalah alam sejuk pegunungan atau hawa segar pantai nan indah. Tak ada yang menyiapkan pedang untuk menebas leher kita.

Meski begitu, ternyata ada beberapa diantara kita yang enggan untuk berangkat. Enggan untuk ke medan jihad yang jauh lebih ringan dari tabuk. Enggan merapat pada jamaah hanya karena alasan yang tidak syar’i. Hanya karena anak gak ada yang jaga, istri yang merengek tak mau ditinggal atau karena sakit kepala ringan.

Baca juga serial Tabuk oleh ust. Cahyadi Takariawan:

  1. Seberapa Jauh Tabukmu ?
  2. Ketidakberangkatan Menimbulkan Penderitaan
  3. Tetaplah Husnuzhan atas Ketidakberangkatan Saudaramu
  4. Perlukah Alasan Palsu ?
  5. Katakan Saja Yang Sebenarnya
  6. Senior Bersalah Juga Dihukum
  7. Hukuman Itupun Dilaksanakan
  8. Siapa Yang Akan Menolongmu ?
  9. Jangan Ikuti Ajakan Raja Ghassan
  10. Lengkap Sudah Kesunyian Itu
  11. Tidak Perlu Meminta Keringanan Hukuman
  12. Dua Bulan Kurang Sepuluh Hari, Pengampunan Itu Tiba

Semoga Allah senantiasa memberikan semangat kepada kita untuk terus berdakwah dan hadir dalam setiap majelis dakwah

Silahkan Berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s