Menyikapi Musibah

banjir-jakarta

Dua hari yang lalu Jakarta kembali diguyur hujan yang sangat deras hingga menyebabkan banjir di berbagai tempat. Rumah-rumah tenggelam dan pengungsi mencapai puluhan ribu orang. Ya, inilah musibah. Tak ada seorangpun yang berharap datangnya musibah seperti ini. Meski sebagian pihak masih dapat memanfaatkan musibah ini untuk mengais rejeki atau bermain-main dengan air yang melimpah.

Musibah dapat hadir pada siapa saja, tak peduli dia beriman atau tidak, tak peduli dia doyan maksiat atau tekun beribadah. Musibah dapat hadir dan tak seorangpun dapat mencegahnya. Namun, kita bisa menyikapinya dengan sikap yang terbaik. Bagaimana?

Ada dua sikap yang bisa dipilih tatkala datang musibah yaitu bertaubat dan bersabar. Tapi jika hal itu terjadi pada saya, saya lebih suka memilih bertaubat dan bersyukur. Lho kok?

Dengan bertaubat, kita menganggap musibah itu sebagai adzab. Yah, adzab atas dosa yang mungkin tak pernah kita sadari. Karena banyak dosa kecil yang lancar kita kerjakan bahkan seringkali dosa sudah kita anggap sebagai kebenaran.

Kenapa saya tidak menganggap musibah sebagai ujian?

Karena demi kehati-hatian dan saya sadar diri bukanlah makhluk yang tanpa dosa. Mungkin jika saya sekelas ulama-ulama yang ilmu jariyahnya tak terhitung jumlahnya bisa menganggap musibah sebagai ujian. Tapi siapalah saya hingga bisa dengan percaya diri menganggap musibah sebagai ujian?

Seandainyapun bener itu hanya ujian, gak masalah juga kan? Dengan tidak mengeluh dan justru bertaubat, kita mendapatkan 2 hal sekaligus. Pahala atas kesabaran kita dan terhapusnya dosa karena pertaubatan kita. Apalagi kalau kita tahu kenapa Allah menghukum kita dengan musibah, kita jadi enggan untuk mengulang perbuatan yang sama di masa mendatang.

Lalu kenapa musibah justru harus disyukuri?

Umar bin Khattab r.a sangat senang dan bersyukur apabila ada musibah menimpa beliau. Kenapa? Karena beliau tahu betul apa yang sesungguhnya terjadi di balik sebuah musibah:

  1. Diangkatnya derajat seseorang di mata Allah
  2. Terhapusnya dosa-dosa
  3. Mendapatkan ganti yang lebih baik lagi

Maka, tak salah jika Umar justru sangat bersyukur ketika musibah itu datang. Beliau justru menangis tatkala hidupnya aman-aman saja, tak ada hal yang menantang atau menguji nyali. Karena beliau khawatir Allah justru sedang membiarkannya dalam sebuah dosa yang berlarut-larut. Beliau khawatir, nikmat yang beliau terima justru sebagai pengurang nikmatnya di akherat kelak.

Sangat bertolak belakang dengan kita bukan? Saat dapat nikmat, kita merasa mendapatkan balasan atas kebaikan yang telah kita lakukan. Saat mendapat musibah, kita merasa Allah sedang menguji kita karena sesungguhnya kita hamba yang beriman. Akhirnya tak pernah kita merasa berbuat salah, tak pernah kita merasa memiliki dosa. Taubatnya pun sekedar pemanis bibir tatkala dzikir ba’da sholat. Hanya bibir yang beristighfar sementara hati dan pikiran melayang kemana-mana. Atau malah bibir beristighfar, tapi pikiran sedang berpikir keras mencari kesalahan saudara sendiri untuk kita sharing di twitter dan facebook.

Apa yang anda lakukan saat musibah terjadi?

Silahkan Berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s