Mengendalikan Amarah

mengendalikan amarahMarah adalah hak semua orang. Namun, sebuah kebijaksaan apabila kita mampu mengendalikan amarah. Dalam sebuah hadist Rasulullah saw bersabda, “Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat, tapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan amarahnya”.

Saya sendiri dalam beberapa kesempatan juga tak mampu mengendalikan amarah. Rasanya mau meledak saja. Untungnya expresi yg saya gunakan bila marah adalah dengan diam. Jarang saya ngomel kecuali kalau lawan bicara terus mendesak untuk bicara.

Marah sebenarnya ada manfaatnya, asalkan diterapkan pada tempat yang tepat. Salah seorang ahli pengembangan anak menuturkan tentang marah 1/2 menit. Saya sendiri belum mampu melakukannya. Bagaimanakah marah 1/2 menit itu?

Marah 1/2 menit adalah kemarahan yg kita lepas selama 1/2 menit. Tapi dalam 1/2 menit berikutnya, rasa marah itu harus kita balik jadi rasa sayang selama 1/2 menit juga. Dan marahnya harus tepat sasaran serta jelas alasannya. Juga dilarang melakukan justifikasi atau mencap orang yang kita marahi terutama jika dia anak-anak.

Misalnya anak kita berbuat salah, maka kita harus bisa marah tapi jelas marahnya kenapa. “Dengarkan orang tua kalau ngomong, hentikan dulu aktifitasmu!” atau bisa juga seperti ini, “Ayah tidak suka nanda boncengan dengan cowok!”

Nah, setelah marah, segera balik jadi sayang, kalau perlu peluk dia dan katakan, “Tapi ayah sayang sama nanda, ayah tahu nanda anak baik dan akan memperbaiki kesalahan ini”

Itu teorinya. Tapi semalam saya diuji dengan tingkah putri saya yang sebenarnya mungkin dari saya juga awalnya kalau dipikir-pikir lagi. Saya ingin coba praktek marah 1/2 menit ini. Eeeh.. lha kok kelewatan. Waduuh… akhirnya anaknya ngambek sampai pagi. Bener-bener nyeseeel banget. Apalagi setelah ngobrol dengan bundanya ternyata point yg saya pakai sebagai tombol marahnya keliru. Ternyata bunda ingin ngobrol dengan saya, bukan dengan putri saya. Cuma, karena sejak sore saya coba ajak dia bicara tapi dia terus bungkam bahkan ketika saya tepat didepannya (cuma kurang dari 1 meter jarak wajah kami) dia malah cekikikan sambil megang HP dan asyik dengan temannya di HP…

Dan tatkala bundanya datang dan mengajukan satu pertanyaan, saya kira putri saya yg ditanyai dan dia gak menghiraukan serta asyik membaca bukunya. Maka meledaklah amarah saya. Nah, pas mau saya belokkan, tenggorokan sudah tercekat gak bisa ngomong lagi karena pada dasarnya saya ini pemarah diam… Astaghfirullah… berkali-kali saya istighfar tak juga bisa meredakan amarah.

Tapi memang perlu dilatih biar bisa mengontrol…hehehe… Cuma masalahnya gimana cara melatihnya itu yang susah.

LALU BAGAIMANA CARA MENGENDALIKAN AMARAH?

Jika marah 1/2 menit susah kita praktekkan, maka kita harus mampu mengendalikan amarah. Menjaga hati biar tidak mudah marah.

  1. Cari 1001 alasan baik kenapa dia melakukan itu
  2. Yakin bahwa selalu ada pintu taubat untuk dosa sebesar apapun. Sehingga andai memang dia salah, dia akan berubah.
  3. Perbanyak istighfar bila dada sudah panas.
  4. Jika tak mampu membendung, segera berwudhu.
  5. Ubah posisi, jika tadi berdiri, segera duduk. Jika duduk berbaringlah. (Ini yg saya lakukan tadi malam)
  6. Jika yg anda marahi anak anda, ucapkan kata2 sayang: “Ayah sayang nanda, ayah sayang nanda…”

Semoga kita dapat senantiasa menjaga emosi sehingga tidak mudah bagi kita untuk marah.

Wallahu a’lam

One thought on “Mengendalikan Amarah

Silahkan Berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s