Menemukan Alasan

whySeringkali kita malas melakukan sesuatu. Bahkan kita tak tahu harus melakukan apa saat ini. Gak ada kerjaan, juga gak ada bisa dilakukan. Atau malah kita merasa terlalu sibuk sehingga tak punya waktu lagi untuk mengembangkan diri. Sering begitu? Saya sering.

Kita melakukan sesuatu itu berdasarkan skala prioritas. Masalahnya setiap orang punya prioritas yang berbeda-beda. Bagi saya, keluarga adalah nomor satu. Jadi, jika ada acara yang berbenturan dg acara keluarga, saya lebih suka memilih acara keluarga.

Ya, banyak sih yang seperti itu. Bilangnya keluarga prioritas pertama, tapi ngantar anak sekolah aja gak sempat karena harus buru2 ke kantor. Maka, meski dia gak mau mengakui, baginya kantor adalah prioritas pertama.

Dalam menentukan prioritas, kita biasanya mengacu pada WHY atau alasan. Sesuatu itu akan semakin kehilangan prioritasnya apabilang WHY-nya tidak jelas dan semakin buram.

Contohnya memilih mengantar anak sekolah atau berangkat ke kantor.

Memilih berangkat ke kantor memiliki WHY yang lebih besar drpd mengantar anak sekolah. Mungkin klo terlambat maka dia takut dipecat, atau takut terlihat tidak disiplin di kantor, dsb. Sementara kalau anak berangkat sekolah sendiri, resikonya paling kecelakaan, dirampok orang, itupun sangat kecil. Sehingga ke kantor lebih prioritas drpd mengantar anak.

Saya tidak sedang menunjukkan mana yang lebih baik antara mengutamakan urusan keluarga atau mengutamakan urusan kantor. Saya ingin coba menjelaskan bahkan kita takkan bergerak ke arah yang kita inginkan apabila kita tak memiliki WHY yang cukup besar.

Siapa yang ingin jadi milyuner?

Saya yakin semua orang ingin. Tapi saat ditanya KENAPA anda ingin jadi milyuner? Jawabannya sangat bervariasi. Jawaban itulah WHY-nya. Ketika kita punya alasan yang cukup kuat untuk menjadi milyuner, maka kita akan bergerak, melakukan apapun asal bisa menjadi milyuner.

Lebih ekstrim-nya gini. Anda sedang rapat di kantor, lalu ada SMS dr istri anda setelah berulangkali dia telp dan tidak anda angkat karena sedang rapat. SMS itu mengatakan anak anda sedang di rumah sakit dan kondisinya kritis sekarang. Apa yang anda lakukan? Meneruskan rapat?

Saya yakin sebagian besar akan menjawab, “Saya akan minta ijin pimpinan untuk meninggalkan rapat dg alasan anak saya sakit”

Nah! Itulah WHY. Saat anak kritik di rumah sakit, kita menemukan WHY keluarga lebih penting drpd rapat. Saat kondiri aman tentram, kita menemukan WHY kantor lebih penting drpd keluarga. Jika kita menemukan WHY yang cukup besar, maka kita akan bergerak menyongsongnya dan secara ajaib kita juga akan menemukan jalan mencapainya.

Stephen Covey mengatakan, “If you know the Why, you will find the How”. Jika anda tahu alasannya, anda akan menemukan jalannya.

Jika anak kritik di rumah sakit, biaya besar harus kita siapkan, maka meski kita benar-benar tak punya uang saat itu, kita bisa mendapatkan uangnya. Padahal dalam kondisi normal, jangankan 50 juta misalnya, 5 juta aja butuh perjuangan ekstra dan menabung berbulan-bulan.

Maka, saat menginginkan sesuatu baik dalam doa atau target pribadi, selalu iringi dengan WHY I SHOULD GET IT. Kenapa saya harus mendapatkannya. Tanpa itu, doa tinggallah doa dan mimpi tinggallah mimpi.

IF YOU KNOW THE WHY, YOU WILL FIND THE HOW

Silahkan Berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s