Qurban di Kota atau Daerah Terpencil?

sapi2Saat ini, banyak lembaga-lembaga amil punya program baru yaitu Qurban di daerah minus atau terpencil. Ada juga lembaga amil yg berinovasi dg mengalengkan daging hewan qurban sehingga distribusinya tidak terikat waktu karena daging jadi awet.

Yang manapun pilihan kita, semua pasti punya alasan yang baik dan insyaaLlah semuanya benar. Qurban di daerah terpencil akan meluaskan syiar dakwah Islam hingga ke pelosok desa dimana disana seringkali kekurangan hewan qurban untuk disembelih. Apalagi tak jarang penduduk desa merasa qurban itu cuma sekali seumur hidup. Dan karena orang kaya di desa itu sedikit, akhirnya qurban tidak ada lagi karena semua orang kaya sudah merasa berqurban.

Sementara di kota besar, dimana pendidikannya lebih baik dan pengetahuan serta wawasan agamanya sudah cukup, qurban seringkali overload. Satu keluarga bisa mendapatkan daging qurban dari 2 masjid bahkan lebih. Malah bagi sebagian keluarga, momen qurban dijadikan momen cari nafkah. Dia keliling dari masjid ke masjid mengumpulkan daging qurban. Setelah banyak dijual ke penjual daging dengan harga murah.

Ya, itulah dilema ibadah qurban di perkotaan.

Tapi, apakah kemudian kita lalu berbondong-bondong menyelenggarakan qurban di luar kota hingga meninggalkan penduduk kota sendiri? Rasanya juga tidak mungkin.

Kita beruntung, kedua pendapat ini punya pendukung masing-masing. Sehingga tak perlu terjadi perdebatan. Menurut saya, yang suka qurban di luar kota, silahkan menyalurkan melalui lembaga2 yang ditunjuk. Sementara mereka yang ingin berbagi hewan qurban dengan para tetangga, bisa menyemarakkan qurban di kampungnya masing-masing.

Kerjasama dan koordinasi antar masjid mustinya juga terjalin sehingga penyebaran hewan qurban tidak sampai overload.

Di Perumahan Rewwin, Waru Sidoarjo tempat tinggal saya dulu, ada 5 masjid yang semuanya menyelenggarakan penyembelihan qurban. Tapi kelima masjid itu sebelum hari raya sudah melakukan koordinasi, mulai koordinasi panitia sholat Idul Adha hingga proses pembagian hewan qurban.

Salah satu keputusannya adalah penetapan jam pembagian hewan qurban ke masyarakat. Kelima masjid sepakat, pembagian ke masyarakat umum jam 13.00 setelah sholat dhuhur hingga 13.30. Waktu yang sempit itu dirasa cukup untuk mencegah mereka yang memanfaatkan momen ini untuk menjadi pengepul🙂

Sisanya dibagikan ke tetangga-tetangga masjid. Karena perumahan, rata2 penduduknya enggan berdesak-desakan di masjid untuk mendapatkan daging qurban, sehingga lebih memilih menunggu di rumah. Tak hanya untuk mereka yang antri dan tetangga masjid saja. Kelima masjid juga berkoordinasi soal penyebaran daging ke lembaga2 yang mengajukan proposal permintaan daging qurban. Sehingga satu lembaga tidak perlu mendapatkan daging yang melebihi kebutuhannya.

Ya, memang butuh kerja keras agar distribusi daging qurban ini merata sehingga tak ada satupun keluarga yang tidak kebagian daging qurban sementara keluarga lain bertumpuk-tumpuk daging qurban di rumahnya.

Yang mungkin belum saya tahu, adakah lembaga yang siap menampung daging sisa dari masjid2 lalu mengolahnya menjadi kornet sehingga bisa disimpan untuk kebutuhan mendesak saat terjadi bencana alam? Ini daging sisa lho, bukan hewan utuh seperti yang dilakukan di Rumah Zakat.

Jika ada, mungkin penyebarannya akan lebih efektif lagi. Karena seringkali panitia qurban di masjid itu tak tahu lagi kemana harus menyalurkan daging qurban yang masih tersisa banyak.

Silahkan Berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s